Ngono yo ngono, ning ojo ngono

Beberapa minggu yang lalu, gue sempet Whatsapp call sama seseorang, Asrori namanya. Buat gue dia adalah sosok seorang kakak, meskipun gue dan dia tidak punya ikatan keluarga secara langsung.

Sekitar 1 tahun belakangan ini, gue dan dia hanya hitungan jari ketemu, karena gue pindah ke Jakarta sekitar 1 tahun yang lalu. Dulu kami masih bisa bertemu ketika gue pulang kampung, tapi sekarang dia juga sudah hijrah ke Hong Kong, mencari sesuap nasi disana.

Hari minggu itu gue galau total, pikiran gue ruwet nggak karuan. Gue sedang berusaha buat menimbang-nimbang untuk terus berjalan apa berhenti menjalani hubungan dengan seseorang. Dan ia tampak seperti seseorang yang punya indra ke enam, menelfon gue ketika gue sedang butuh saran dari orang yang lebih berpengalaman.

Gue menceritakan segala keluh kesah gue ke dia. Kasusnya yakni adalah gue dilarang punya pacar orang Jakarta sama orang tua gue, oleh karena itu gue mencoba buat deket sama orang di daerah gue. Pada akhirnya gue merasa kami gagal karena perbedaan pola pikir.

1 tahun di Jakarta membuat pola pikir gue berubah total. Namun disisi lain, wanita-wanita yang deket sama gue merasa bahwa apa yang gue lakukan terlalu berlebihan, mereka nggak paham bahwa apa yang gue lakuin sebenernya juga buat kebahagiaan (dari sisi ekonomi) mereka kelak di masa depan. Dan terkadang, hal-hal seperti ini susah buat dijelaskan kepada mereka yang tidak mengenal Jakarta.

Gue punya prinsip, bahwa selama apa yang gue lakuin tidak melanggar norma dan merugikan orang lain, berarti itu sah-sah aja. Gue juga punya rem pakem untuk mengerem perilaku gue disana. Nggak pernah sekalipun gue nongkrong di diskotik atau di bar. Gue tau mana yang salah dan mana yang bener.

Pada akhirnya, orang yang sering gue sapa Mas Rory atau Brory ini memberikan kata-kata singkat yang sempet membuat gue bingung mengartikannya, “Ngono yo ngono, ning ojo ngono”.
Dalam bahasa Indonesia, kata-kata tersebut memiliki arti “Begitu ya begitu, tapi jangan begitu”, gimana pusing nggak ngartiinnya?

Jika di telisik lebih dalam, kata-kata itu memiliki arti seseorang boleh tau tentang hal seperti itu, tapi jangan berlaku seperti itu. Setidaknya itu yang gue tangkep.

Salah satu contoh misal, seseorang boleh punya teman seorang preman, bergaul dengan mereka, nongkrong dengan mereka, tapi jangan sekali-kali mengikuti gaya hidup mereka, bahkan kalau bisa kita yang mengajarkan ke mereka mana yang baik, mana yang buruk.

Yah, sekedar literatur tentang Ngono yo ngono ning ojo ngono.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *