Pengalaman Pertama Naik Kereta Api Kelas Eksekutif

Akhirnya mimpi untuk bisa naik naik kereta api eksekutif terlaksana juga. Maklum dulunya gue orang dengan kantong pas-pasan yang jelas hampir sangat-sangat mustahil buat naik kereta eksekutif. Ya gimana lagi, harga tiket kereta eksekutif untuk jurusan Jakarta-Madiun tergolong cukup mahal, limang atus ewu alias lima ratus ribu. Mending duit segitu gue beliin es cendol udah cukup buat nraktir orang satu RT di kampung gue.

Yah, karena hari itu gue naik kereta eksekutif, gue mau dandan ganteng lah. Gue pakai baju yang cukup kekininan, plus headphones yang melingkar di leher gue. Tapi konyolnya, gue itu cuma bawa sandal jepit keramat gue, karena sepatu gue ketinggalan di kantor, ya udahlah bodo amat dan meluncurlah gue ke stasiun Gambir.

Kesan pertama gue ke kereta eksekutif sebenernya biasa-biasa aja ya, meskipun gerbong kereta eksekutif jauh beda sama kereta ekonomi. Untuk tempat duduk gue memilih kursi no. 1C yang kebetulan adalah kursi single. Awalnya gue berfikir kalau kursi no. 1C itu bakal nyaman banget karena gue bisa lebih punya wilayah yang bisa gue jajah sendiri.

Tapi ternyata tebakan gue salah total, kursi no. 1C itu gak nyaman banget man. Pertama adalah kita sebagai penumpang tidak akan mendapat pijakan kaki, karena pijakan kaki berda dibagian belakang kursi yang berada di depan kita, sementara kita ada di posisi paling depan. Yang enak tuh kalau ada acara pijit-pijitan maraton di gerbong, kita yang ada di posisi terdepan gak perlu mijitin orang, tapi sayangnya gak ada.

Kedua adalah kursi 1C itu gak nempel di dinding kereta, alhasil gue yang suka molor di kereta dengan cara bersandar di dinding harus rela menahan kantuk dari jam 3 sore sampai jam 8 maleman, hingga pada akhirnya gue punya wilayah jajahan yang lebih luas setelah gue pindah ke kursi di belakang gue. Gue sempet mikir, kenapa nggak dari tadi-tadi aja gue pindah ke kursi kosong ini, kadang suka telat mikir gue ini.

Kalau bicara soal fasilitas dan pelayanan, kereta eksekutif jauh banget daripada kereta kelas ekonomi. Di dalam kereta eksekutif ada sebuah TV di setiap gerbong, meskipun gue rasa TV ini gak ada yang mau nonton. Lha gimana mau nonton, itu acara juga gak jelas banget, kebanyakan cuma iklan kereta api doang. TV ini cuma nayangin chanel pribadi KAI yakni KATV, jadi jangan harap lu bisa nonton D’Academy di kereta eksekutif, gue aja harus rela streaming buat nonton MU lawan Everton.

Untuk masalah kursi penumpang, juga sangat berbeda, lebih empuk dan bisa di atur posisinya senyaman mungkin. Selain itu kita juga bakal dapet bantal yang empuk dan selimut gratis yang wangi banget. Jauh beda sama bantal di kereta ekonomi yang keras dan bau apek padahal nyewa aja musti bayar goceng.

Kalau soal makan, katanya dulu sih gratis ya, tapi kemarin gue musti bayar sekitar 24 ribu. Rasanya sih gak jauh beda sama masakan di kereta ekonomi, tapi ya enak gak enak namanya juga laper ya di sikat aja. Eh iya, di kereta eksekutif waktu kita beli makan dan minum, kita bakal di kasih nota pembelian.

Yang jelas kereta eksekutif jauh lebih cepet ketimbang kereta ekonomi, karena selain jarang berhenti di stasiun, kereta eksekutif lebih di prioritaskan di jalan, jadi jangan heran kalau di stasiun ada kereta ekonomi yang musti berhenti lama buat nunggu kereta eksekutif berangkat duluan. Perjalanan Jakarta-Madiun sendiri gue tempuh dalam waktu 10jam, beda 2 jam dari kereta ekonomi.

Saran Buat KAI

  • Makanan kalaupun musti bayar lagi harusnya di sediakan makanan yang lebih layak
  • Chanel TV minimal TV local lah, syukur-syukur pakai TV kabel
  • Toilet sering-sering di bersihin, masak sama aja kayak toilet kelas ekonomi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *